Pelarangan pembangunan Minaret ternyata juga membuat kaget warga Swiss. Seperti apa dan mengapa? Koresponden Harian Seputar Indonesia di Swiss, Krisna Diantha, menceritakan pengalamannya.
PEMILU pertama saya golput (tidak memilih) karena temanya kurang menarik. Pungutan suara kedua saya hiperaktif. Sepekan sebelum pencoblosan itu ditutup, saya sudah mengisi kartu suara dan mencemplungkannya ke kotak suara di Kelurahan Kriens, Lucern, Swiss Tengah.
Tema coblosan itu cukup menarik yaitu soal minaret dan larangan ekspor senjata keluar negeri. Tema lokal, karena tentang sistem transportasi dan finansial di Provinsi Lucern, saya pun golput. Sejak menggenggam paspor Swiss enam bulan silam saya berhak ikut serta pemilu di Swiss.
Dari beberapa pertemuan, diskusi, dan pantauan di media, saya hakulyakin penduduk Swiss tidak akan setuju pelarangan pembangunan minaret. Sementara larangan ekspor senjata, saya pesimistis komunitas Helvetia ini akan mengamininya. Paling tidak minaret bukanlah ancaman bagi kehidupan masyarakat Swiss.
"Kalau toh mau membangun minaret, sudah ada undang-undang khusus pembangunan tata wilayah, sebagaimana izin mendirikan bangunan (IMB) di Indonesia," begitu jawaban saya setiap ditanya rekan kerja atau kerabat di Swiss.
Lagi pula, Bundesrat, koalisi tujuh menteri Swiss, sepakat untuk tidak melarang pembangunan menara masjid. Melalui menteri kehakiman Evelin Widmer-Schlumpf, Bundesrat mengimbau rakyat Swiss untuk mencontreng "nein" atau "tidak".
"Karena, untuk menghentikan fundamentalisme bukan melalui pelarangan minaret. Justru pelarangan yang tak perlu itu akan menimbulkan permusuhan baru," katanya di berbagai media, dari koran, radio, hingga di televisi, sehari menjelang pencoblosan di tutup.
Jajak pendapat juga menunjukkan hipotesis serupa. Tapi hasilnya di luar dugaan, ketika SF1, televisi Swiss, mengumumkan kemenangan kalangan aliran kanan itu, ternyata 57% masyarakat Swiss setuju pelarangan pembangunan minaret.
"Saya juga kaget, kok bisa begitu," kata Patrick, teman main karambol. "Tapi itulah demokrasi, kita harus hormati juga," imbuhnya.
Jika ada negara penganut demokrasi langsung namun tetap stabil, itulah Swiss. Mantan Sekjen PBB Koffi Anand mengakui hal itu. "Bisa jadi contoh bagus untuk negara lain," katanya.
Swiss memang pengikut demokrasi kuno ala Yunani. Rakyatlah yang menentukan. Setahun, sedikitnya ada empat kali referendum dengan tema minimal empat. Sebagian besar menggunakan coblosan sistem pos, kertas suara dikirim ke alamat penduduknya, lalu yang berminat ya tinggal mengirimkan lewat pos, atau seperti saya, mencemplungkan langsung ke kotak suara di kelurahan.
Masyarakat Muslim di negara ini sudah mencapai 400 ribuan, tidak terlalu banyak jika dibandingkan pemeluk Katolik atau Kristen. Namun kenaikannya cukup tajam, setara dengan pelonjakan jumlah mereka yang mengaku atheis. Katolik sebanyak 40%, mungkin masih mendominasi agama masyarakat Swiss, juga Kristen Protestan (30%). Namun yang religius, yang rajin ke gereja, hanya 3%. Itu pun sebagian besar generasi tua. Anak muda? Jika bukan atheis ya Katolik atau Kristen KTP.Sementara Islam dan atheis terus menunjukkan kenaikan pemeluknya.
Ada 150 masjid di Swiss, empat di antaranya sudah memiliki menara. Selebihnya, ya masjid tanpa menara bahkan sebagian besar adalah gudang bawah tanah yang disulap jadi tempat ibadah. Bagi turis Muslim, akan sangat sulit mencari masjid di negara ini. Tak akan terdengar azan, tak terlihat menara masjid. Bertanya kepada orang kebanyakan, juga akan dijawab tak tahu. Bukan mereka tak mau membantu tapi memang masjid adalah barang langka di negeri ini.
Menemukan restoran berlabel halal juga tak mudah. Setelah disetujuinya pelarangan pembangunan minaret, komunitas muslim Swiss memang terluka. Bukan karena tak akan ada lagi menara masjid di negeri ini. Namun lantaran pelarangan itu tak perlu. Tanpa minaret pun tidak masalah.
"Kami bisa berdoa di mana saja bahkan di atas motor sekali pun," tutur Haris, salah seorang muslim Swiss asal Kosovo.
Pelarangan itu, katanya, hanya menunjukkan kepanikan masyarakat Swiss atas hasutan partai aliran kanan.(Koran SI/Koran SI/jri)
http://international.okezone.com/read/2009/12/03/18/281340/masyarakat-swiss-kurang-mengenal-islam
Rabu, 16 Desember 2009
Agen Rahasia Inggris Salahkan Rusia Atas Perang Irak
LONDON (SuaraMedia News) – Kepala agen intelijen Inggris MI6 dilaporkan mengatakan bahwa Rusia menanggung kesalahan atas dimulainya perang di Irak.
John Sawers mengeluarkan pernyataan itu dalam sidang dengar pendapat secara terbuka di London yang bertujuan untuk memapankan situasi ketika perang dimulai.
Sawers, yang saat itu menjabat sebagai penasihat di kantor perdana menteri, dikutip oleh BBC mengatakan bahwa Rusia mencegah diperkenalkannya “sanksi pintar” terhadap Irak di tahun 2001. Ia mengatakan bahwa sejumlah petinggi Rusia memberitahunya saat itu bahwa program sanksi pintar akan melukai kepentingan ekonomi beberapa perusahaan Rusia. Alasan resmi yang diberikan oleh delegasi Rusia adalah bahwan rencana sanksi itu terlalu luas dan rumit.
Sawers memberitahu penyelidik bahwa Rusia telah mem-veto putaran kedua sanksi terhadap Irak untuk melindungi kepentingan bisnisnya sendiri, membuat invasi menjadi tidak dapat dihindari.
“Saya akan mengatakan pada John Sawers bahwa itu adalah usaha yang bagus, tapi saya rasa tidak ada kebenaran sama sekali dalam pernyataannya,” ujar Andrew Giligan. “Faktanya adalah seperti yang kita tahu, banyak negara yang melanggar sanksi terhadap Irak, dan faktanya adalah, seperti yang kita juga tahu, Irak benar-benar dilemahkan oleh sanksi dan tidak menghadirkan ancaman bagi siapa pun kecuali rakyatnya sendiri.”
Pimpinan MI6 ini menuduh Rusia bekerjasama dengan Irak. Ia mengatakan bahwa Saddam Hussein meletakkan pemerintah Rusia di bawah tekanan untuk menggunakan keanggotaan permanennya dalam Dewan Keamanan PBB untuk memveto sanksi, dengan ancaman akan membatalkan kontrak bisnisnya.
Sementara itu, Rusia menentang invasi bersenjata ke Irak hingga saat-saat terakhir, dengan resolusi terakhir menyerukan untuk menahan diri dari keterlibatan militer pada tahun 2003, beberapa bulan sebelum perang Irak dimulai.
“Saya tidak mengerti bagaimana negara-negara yang menentang perang dapat disalahkan karena memulai sebuah perang. Sangat jelas dari semua bukti yang telah kita lihat dalam penyelidikan sejauh ini bahwa Inggris dan AS menginginkan perang sejak awal, dan mereka bertekad untuk melakukan apa pun agar terjadi perang, dan semua hal yang lain dilakukan hanya untuk menutupi tekad itu,” ujar Giligan.
Sergey Utkin dari Institut Ekonomi Dunia dan Hubungan Internasional mengatakan bahwa “bagi publik Inggris dan komunitas internasional, tidak penting bagaimana Rusia bersikap sebelum perang, jauh lebih penting bagaimana situasi di Irak berkembang.”
“Orang-orang tertarik untuk mengetahui apakah benar atau salah untuk menggulingkan semua anggota partai Saddam, meninggalkan Irak tanpa orang-orang yang memiliki pengalaman profesional. Orang-orang juga tertarik tentang bagaimana melalui situasi yang kita hadapi hari ini. Mengenai hal ini, kasus Rusia hanyalah bagian kecil dari sejarah.”
Sergey Utkin menambahkan bahwa “mereka telah berulang kali menunjukkan bahwa mereka mendukung perang Irak hingga harus bertanggung jawab untuk itu. Mereka tidak memiliki pilihan lain, mereka tidak memiliki jalan lain untuk meloloskan diri dari hal itu, mereka hanya dapat membuktikan bahwa keputusan itu benar. Dan seluruh penyelidikan akan berjalan ke arah ini, mereka hanya akan bersikukuh bahwa keputusan ini benar.”
Penyelidikan Irak masih dalam tahap-tahap awal, penemuannya belum akan dipublikasikan hingga akhir tahun depan namun telah ada beberapa kejutan. Menurut bukti, sumber informasi utama akan adanya senjata pemusnah massal di Irak datang dari seorang supir taksi.
Adam Holloway, seorang spesialis pertahanan, mengklaim informasi ini diperoleh MI6 secara tidak langsung dari seorang sopir taksi yang telah mendengar dua komandan militer Irak Saddam berbicara tentang senjata.
Klaim 45 menit adalah fitur kunci dari dokumen tentang “senjata pemusnah massal” Irak yang akan diluncurkan oleh Tony Blair pada bulan September 2002. Blair menerbitkan informasi ini untuk meningkatkan dukungan publik untuk perang.
Setelah perang, berkas tersebut menjadi sangat kontroversial ketika menjadi jelas bahwa beberapa informasi yang terkandung itu tidak benar. Sebuah penyelidikan yang dipimpin oleh Lord Butler ke dalam penggunaan intelijen di run-up untuk perang itu mengungkapkan bahwa MI6 pada saat itu menerima bahwa sebagian dari sumber-sumber informasi Irak tersebut tidak dapat dipercaya, tetapi laporan itu tidak mengidentifikasi siapa mereka.
Holloway, seorang mantan Grenadier Guard dan jurnalis televisi yang sekarang menjadi anggota komite pertahanan Commons, membuat komentar dalam sebuah laporan yang mengklaim ia telah menulis bahwa MI6 selalu punya keberatan tentang beberapa informasi dalam berkas tapi ini hal tersebut yang dikesampingkan ketika Downing Street sedang bersiap-siap untuk publikasi.
Dalam laporan ia menulis: "Di bawah tekanan dari Downing Street untuk menemukan bukti apa pun untuk mendukung kasus WMD, intelijen Inggris itu meremas agen mereka di Irak untuk mendapatkan informasi. Satu agen lalu datang dengan sesuatu tentang '45 menit' atau sesuatu tentang rudal yang diduga dibahas dalam pertemuan politik tingkat tinggi Irak.
"Tapi asal informasi ini tidak pernah dipertanyakan secara rinci sampai setelah invasi Irak, ketika menjadi jelas bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Pada akhirnya ternyata bahwa informasi itu tidak kredibel, itu berasal dari sopir taksi di perbatasan Irak-Yordania, yang telah ingat mendengar sebuah percakapan di bagian belakang taksinya dua tahun sebelumnya.
"Memang, dalam catatan kaki analis intelijen dalam laporan itu, bagian tersebut ditandai bahwa beberapa rudal yang diduga dimiliki pemerintah Irak itu mungkin terbukti tidak benar. Bahkan dapat dikatakan tidak ada. (rin/rt/sm)
John Sawers mengeluarkan pernyataan itu dalam sidang dengar pendapat secara terbuka di London yang bertujuan untuk memapankan situasi ketika perang dimulai.
Sawers, yang saat itu menjabat sebagai penasihat di kantor perdana menteri, dikutip oleh BBC mengatakan bahwa Rusia mencegah diperkenalkannya “sanksi pintar” terhadap Irak di tahun 2001. Ia mengatakan bahwa sejumlah petinggi Rusia memberitahunya saat itu bahwa program sanksi pintar akan melukai kepentingan ekonomi beberapa perusahaan Rusia. Alasan resmi yang diberikan oleh delegasi Rusia adalah bahwan rencana sanksi itu terlalu luas dan rumit.
Sawers memberitahu penyelidik bahwa Rusia telah mem-veto putaran kedua sanksi terhadap Irak untuk melindungi kepentingan bisnisnya sendiri, membuat invasi menjadi tidak dapat dihindari.
“Saya akan mengatakan pada John Sawers bahwa itu adalah usaha yang bagus, tapi saya rasa tidak ada kebenaran sama sekali dalam pernyataannya,” ujar Andrew Giligan. “Faktanya adalah seperti yang kita tahu, banyak negara yang melanggar sanksi terhadap Irak, dan faktanya adalah, seperti yang kita juga tahu, Irak benar-benar dilemahkan oleh sanksi dan tidak menghadirkan ancaman bagi siapa pun kecuali rakyatnya sendiri.”
Pimpinan MI6 ini menuduh Rusia bekerjasama dengan Irak. Ia mengatakan bahwa Saddam Hussein meletakkan pemerintah Rusia di bawah tekanan untuk menggunakan keanggotaan permanennya dalam Dewan Keamanan PBB untuk memveto sanksi, dengan ancaman akan membatalkan kontrak bisnisnya.
Sementara itu, Rusia menentang invasi bersenjata ke Irak hingga saat-saat terakhir, dengan resolusi terakhir menyerukan untuk menahan diri dari keterlibatan militer pada tahun 2003, beberapa bulan sebelum perang Irak dimulai.
“Saya tidak mengerti bagaimana negara-negara yang menentang perang dapat disalahkan karena memulai sebuah perang. Sangat jelas dari semua bukti yang telah kita lihat dalam penyelidikan sejauh ini bahwa Inggris dan AS menginginkan perang sejak awal, dan mereka bertekad untuk melakukan apa pun agar terjadi perang, dan semua hal yang lain dilakukan hanya untuk menutupi tekad itu,” ujar Giligan.
Sergey Utkin dari Institut Ekonomi Dunia dan Hubungan Internasional mengatakan bahwa “bagi publik Inggris dan komunitas internasional, tidak penting bagaimana Rusia bersikap sebelum perang, jauh lebih penting bagaimana situasi di Irak berkembang.”
“Orang-orang tertarik untuk mengetahui apakah benar atau salah untuk menggulingkan semua anggota partai Saddam, meninggalkan Irak tanpa orang-orang yang memiliki pengalaman profesional. Orang-orang juga tertarik tentang bagaimana melalui situasi yang kita hadapi hari ini. Mengenai hal ini, kasus Rusia hanyalah bagian kecil dari sejarah.”
Sergey Utkin menambahkan bahwa “mereka telah berulang kali menunjukkan bahwa mereka mendukung perang Irak hingga harus bertanggung jawab untuk itu. Mereka tidak memiliki pilihan lain, mereka tidak memiliki jalan lain untuk meloloskan diri dari hal itu, mereka hanya dapat membuktikan bahwa keputusan itu benar. Dan seluruh penyelidikan akan berjalan ke arah ini, mereka hanya akan bersikukuh bahwa keputusan ini benar.”
Penyelidikan Irak masih dalam tahap-tahap awal, penemuannya belum akan dipublikasikan hingga akhir tahun depan namun telah ada beberapa kejutan. Menurut bukti, sumber informasi utama akan adanya senjata pemusnah massal di Irak datang dari seorang supir taksi.
Adam Holloway, seorang spesialis pertahanan, mengklaim informasi ini diperoleh MI6 secara tidak langsung dari seorang sopir taksi yang telah mendengar dua komandan militer Irak Saddam berbicara tentang senjata.
Klaim 45 menit adalah fitur kunci dari dokumen tentang “senjata pemusnah massal” Irak yang akan diluncurkan oleh Tony Blair pada bulan September 2002. Blair menerbitkan informasi ini untuk meningkatkan dukungan publik untuk perang.
Setelah perang, berkas tersebut menjadi sangat kontroversial ketika menjadi jelas bahwa beberapa informasi yang terkandung itu tidak benar. Sebuah penyelidikan yang dipimpin oleh Lord Butler ke dalam penggunaan intelijen di run-up untuk perang itu mengungkapkan bahwa MI6 pada saat itu menerima bahwa sebagian dari sumber-sumber informasi Irak tersebut tidak dapat dipercaya, tetapi laporan itu tidak mengidentifikasi siapa mereka.
Holloway, seorang mantan Grenadier Guard dan jurnalis televisi yang sekarang menjadi anggota komite pertahanan Commons, membuat komentar dalam sebuah laporan yang mengklaim ia telah menulis bahwa MI6 selalu punya keberatan tentang beberapa informasi dalam berkas tapi ini hal tersebut yang dikesampingkan ketika Downing Street sedang bersiap-siap untuk publikasi.
Dalam laporan ia menulis: "Di bawah tekanan dari Downing Street untuk menemukan bukti apa pun untuk mendukung kasus WMD, intelijen Inggris itu meremas agen mereka di Irak untuk mendapatkan informasi. Satu agen lalu datang dengan sesuatu tentang '45 menit' atau sesuatu tentang rudal yang diduga dibahas dalam pertemuan politik tingkat tinggi Irak.
"Tapi asal informasi ini tidak pernah dipertanyakan secara rinci sampai setelah invasi Irak, ketika menjadi jelas bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Pada akhirnya ternyata bahwa informasi itu tidak kredibel, itu berasal dari sopir taksi di perbatasan Irak-Yordania, yang telah ingat mendengar sebuah percakapan di bagian belakang taksinya dua tahun sebelumnya.
"Memang, dalam catatan kaki analis intelijen dalam laporan itu, bagian tersebut ditandai bahwa beberapa rudal yang diduga dimiliki pemerintah Irak itu mungkin terbukti tidak benar. Bahkan dapat dikatakan tidak ada. (rin/rt/sm)
Iran Uji Tembak Rudal Sejil 2
Teheran, (ANTARA News) - Iran menyatakan berhasil dalam uji tembak rudal jarak jauh, pengembangan rudal Sejil 2, kata laporan televisi negara Rabu, suatu pengumuman yang tampaknya akan menambah ketegangan dengan negara-negara Barat.
Al Alam, televisi satelit Iran berbahasa Arab, mengatakan bahwa rudal Sejil berkemampuan tembak lebih jauh dari rudal Shahab, yang menurut para penjabat Iran di waktu lalu bisa mencapai target 2.000 kilometer, sebagaimana dikutip dari AFP.
Jarak itu bisa mencapai pangkalan Israel dan Amerika Serikat yang ada di Teluk.
Uji coba rudal itu dilakukan bersamaan dengan meningkatnya ketegangan atas program nuklir Iran, yang ditakutkan oleh negara-negara Barat bertujuan untuk pembuatan bom atom. Namun Iran membantah tuduhan-tuduhan itu.
Baik Israel maupun AS memerintahkan tindakan militer jika cara diplomasi gagal dalam memecahkan sengketa nuklir Iran itu.
Sebaliknya, Iran bersumpah akan melakukan serangan balik, jika kedua negara tersebut menyerangnya.(*)
Sumber
Al Alam, televisi satelit Iran berbahasa Arab, mengatakan bahwa rudal Sejil berkemampuan tembak lebih jauh dari rudal Shahab, yang menurut para penjabat Iran di waktu lalu bisa mencapai target 2.000 kilometer, sebagaimana dikutip dari AFP.
Jarak itu bisa mencapai pangkalan Israel dan Amerika Serikat yang ada di Teluk.
Uji coba rudal itu dilakukan bersamaan dengan meningkatnya ketegangan atas program nuklir Iran, yang ditakutkan oleh negara-negara Barat bertujuan untuk pembuatan bom atom. Namun Iran membantah tuduhan-tuduhan itu.
Baik Israel maupun AS memerintahkan tindakan militer jika cara diplomasi gagal dalam memecahkan sengketa nuklir Iran itu.
Sebaliknya, Iran bersumpah akan melakukan serangan balik, jika kedua negara tersebut menyerangnya.(*)
Sumber
Langganan:
Komentar (Atom)